Inspirasi

Kisah Nyata 30 tahun Mengunakan kursi Roda

Hidup adalah pilihan.

Fotografer Indonesia Tanpa Tangan atau Kaki

Dilahirkan tanpa tangan dan kaki, Zulkarnain tertarik pada fotografi saat mengambil foto KTP untuk komunitas lokalnya.

Semangatnya menjadi kaki dan tangannya

Saiful (40 th) adalah penyandang disabiltas. Kedua tangannya tanpa jari dan kedua kakinya memakai kaki palsu. Saya tanya kepadanya berapa jarak terjauh yang bisa ditempuh? Jawabnya, sejauh satu kilometer. Kalau nekat kakinya jadi lecet. Begitulah, Meski terbatas ia adalah seorang aktivis Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kecamatan Moyudan, dengan jabatan sebagai ketua PPDI Desa Sumbersari. Semangatnya lah yang menjadi kaki dan tangannya. Ia mengurus distribusi kartu Jamkesus dan selesai paling duluan.

Setiap hari bersama ayahnya, ia bisa mengerjakan finishing perabot buatan ayahnya yang bekerja sebagai tukang kayu. Ia memproduksi perabot rumah tangga meja, kursi, pintu, almari, rak bersama ayahnya. Ia juga menerima pesanan jasa plitur dan pengecatan perabot.

Saya pernah berkunjungan ke rumahnya, di belakang rumahnya ada tiga kolam ikan. Satu diantaranya berisi 50 ekor gurami besar-besar. Andaikan ada gerakan konsumsi dari produk disabilitas akan membantu dan lebih menguntungkan baginya. Atau malah saling menguntungkan.

Gurami itu dibeli langsung konsumen atau paling tidak tengkulak, asal ambil untung sewajarnya saja. Yang terjadi petani memelihara 3 tahun tengkulak bekerja sekejap tetapi untung besar. Kunjungan rumah itu menginspirasi saya. Semoga Anda juga. Maukah menjadi kaki dan tangan Saiful membantu pemasaran gurami dan jasa finishing perabot?

❤ rosa

Senyuman Seorang Disabilitas

Kisah bermula dari seorang disabilitas “Budi Santoso” yang berani menulis surat kepada Bupati tentang keinginannnya untuk bisa bekerja untuk membantu keluarganya. Sosok Budi Santoso merupakan seorang laki-laki disabilitas berumur 23 tahun yang beralamatkan di Krandon Tundak, Sumberadi Mlati. Budi Santoso tinggal bertiga dengan seorang ibu yang yang bernama Ngadiyem dan adik ibunya yang bernama Wagirah.

Keluarga ini tergolong keluarga miskin, mereka tinggal dirumah tembok separoh batako dengan 3 kamar yang tidak berpintu. Budi Santoso merupakan anak tunggal. Dengan kondisi yang serba terbatas, tidak menyurutkan semangat seorang Budi Santoso untuk bisa membantu keluarganya, walaupun dengan keterbatasan fisiknya.

Keseharian Budi Santoso mencari rongsok disekitar wilayah kecamatan Sleman. Budi Santoso setiap pagi dengan sepedanya dia berjalan menuju pasar beran untuk mengumpulkan rongsok dari kotak sampah yang ada dipasar Sleman. Setelah terkumpul kemudian dibawa pulang untuk segera dipilah mana yang plastik mana yang kertas. Setelah istirahat sebentar kemudian Budi Santoso pergi lagi ke seputaran pasar Cebongan dan Youth Center di Kecamatan Mlati untuk melakukan aktivitas yang sama. Hal ini dilakukan Budi Santoso selama bertahun-tahun. Namun demikian hasil yang diperoleh tidaklah seberapa didapat.

Hingga suatu saat timbul idenya menyurati Bupati Sleman untuk mengadukan kondisi keluarga dan minta diberi pekerjaan. Hal ini dilakukan karena sudah mencoba di beberapa tempat untuk melamar pekerjaan selalu saja mendapatkan penolakan dikarenakan kondisi fisiknya yang disabilitas. Budi Santoso tidak mau ada orang lain berbelas kasihan hanya karena cacat fisiknya, tetapi dia ingin orang lain mau menghargai sosok Budi Santoso karena “hasil” kerjanya. Surat yang ditujukan kepada Bupati Sleman kemudian didisposisi ke Dinas Sosial (Sekretariat SLRT). Oleh petugas dari Sekretariat SLRT Dinas Sosial Kabupaten Sleman kemudian diadakan kunjungan rumah dan melakukan wawancara kepada Budi Santoso dan keluarganya.

Hasil wawancara terungkap bahwa masih banyak orang awam yang hanya merasa kasihan saja terhadap kedisabilitasannya tetapi tidak berusaha untuk memberdayakan, sedangkan disisi lain sosok Budi Santoso tidak mau berpangku tangan menunggu belas kasihan orang lain, yang dia mau adalah uang yang didapat karena hasil keringat dia bekerja.

Setelah di rapatkan di kantor, kebetulan saja kantor  Dinas Sosial masih membutuhkan tenaga tambahan untuk menyapu halaman kantor. Lowongan ini kemudian ditawarkan kepada Budi Santoso. Gayung bersambut, Budi Santoso sangat gembira menerima tawaran ini. Hari-hari selanjutnya adalah setiap hari bangun jam 04.00 kemudian menuju ke komplek Pemerintah Kabupaten Sleman untuk mengumpulkan rongsok dulu baru ke Dinas Sosial untuk menjalankan tugas membantu menyapu halaman sampai dengan jam 07.00.

Selanjutnya melakukan aktifitas mencari rongsok seperti biasanya. Dengan pekerjaan barunya ini, Budi Santoso merasakan adanya penghargaan terhadap dirinya karena tenaganya bukan karena kedisabiliitasannya. Dengan layanan SLRT senyum mengembang di bibir Budi Santoso menuju gairah aktivitas barunya.

Pembelajaran untuk kita semua adalah, adanya kekurangan pada diri kita bukan untuk disesali tetapi tetap disyukuri dengan berkarya dan terus berkarya. Salam SLRT

"Senyum" Bu Siwi

Kesuksesan dalam Pekerjaan Sosial: Harus ada “Panggilan PENGABDIAN Kemanusiaan” jika itu sudah ada maka muncul kreatifitas untuk menyelesaikan tantangan-tantangan yang lebih besar
– Idrus Marham, Mensos RI –

Suatu siang pertengahan September 2017, saya kedatangan Bu Siwi dari Desa Sumberrejo Kecamatan Tempel. Beliau merupakan tokoh perempuan desa tersebut dan menjabat sebagai Kasi Pelayanan di Desa Sumberrejo. Awalnya kita bicang-bincang ringan tentang pelaksanaan Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu di Kabupaten Sleman. Melihat banyaknya masyarakat Sleman yang langsung datang ke Sekretariat SLRT Kabupaten Sleman, kemudian muncul ide bu Siwi….”bagaimana Pak…jika saya memutus rantai pelayanan disini dengan membuat Puskesos baru di desa saya?”….tanya bu Siwi. Sebelum saya iyakan….saya menguji bu Siwi dengan pertanyaan….”mengapa bu Siwi punya ide tersebut dan apa yang melatar belakangi?”….Kemudian bu Siwi panjang lebar menjelaskan bahwa…”setelah direnungkan….Puskesos itu sebenarnya bagian dari tugas pokok fungsi Kasi Pelayanan, sehingga dengan dibuatnya Puskesos itu maka akan meringankan salah tugas Kasi Pelayanan”. Setelah ada kesepakatan awal maka akan diteruskan dan ditindaklanjuti koordinasi dengan Kepala Desa Sumberrejo.

Seminggu kemudian saya menemui Kepala Desa Sumberrejo dan didampingi dengan bu Siwi selaku Kasi Pelayanan terkait dengan tindak lanjut pembentukan puskesos. Pak Kepala Desa menyambut baik “ide” tersebut karena bukan permintaan dari atas (Dinas Sosial) tetapi murni ide dari desa karena kebutuhan akan pelayanan sosial kepada masyarakat dan ….”jika terlaksana maka ikut mendukung visi dan misi Bupati Sleman yaitu meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik melalui peningkatan kualitas   birokrasi   yang   responsif   dan penerapan e-gov  yang terintegrasi dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat”...imbuh Beliau. Hanya beliau mengingatkan bahwa banyak sekali tantangan yang akan dihadapi Puskesos. ……“Desa  belum ada anggaran khusus untuk puskesos, kepedulian masyarakat rendah, mental mengaku miskin, akan banyak pengaduan masyarakat yang belum dapat program dan lain-lain”, demikian kata Kepala Desa.

Bu Siwi kemudian kemudian memaparkan rencananya kepada Kepala Desa bagaimana rencananya waktu dekat dalam pembentukan puskesos. Dalam pelaksanaannya akan memanfaatkan ruang Seksi Pelayanan dan akan mengeluarkan 2 rak buku perpustakaan. Tujuannya adalah memperluas akses pelayanan. Dalam pelayanannya nanti akan dibantu 2 orang staf Seksi Pelayanan dan apabila dibutuhkan nanti akan minta bantuan staf seksi lainnya. Untuk operasionalnya akan memanfaatkan sisa dana Tim Penanggulangan Kemiskinan (TPK) Desa Tahun Anggaran 2017. Untuk penganggaran 2018 baru nanti akan diusulkan dalam Musrenbangdesa biar bisa masuk dalam APBDes 2018. Dalam dukungan pelayanan khususnya data base sudah di siapkan Data BDT SK Bupati Sleman tentang Keluarga Miskin dan Rentan Miskin tahun 2017 dan Data BPJS khusus Desa Sumberrejo. Dan dalam pelaksanaan Puskesos Desa Sumberrejo akan ada pendampingan khusus dari Sekretariat SLRT SEMBADA.

Gayung bersambut dalam tata laksana pelaksanaan SLRT di Kabupaten Sleman, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 Puskesos Desa Sumberrejo di Resmikan secara resmi dan dinamakan PUSKESOS SENYUM. Dalam kurun satu bulan Puskesos SENYUM sudah banyak kegiatan yang dilaksanakan antara lain penanganan ODGJ sampai di rawat di RS. Ghrasia, membantu kepenguruusan Kartu BPJS, penanganan OT, penanganan Lansia Terlantar dan lain lain.

Dengan berdirinya PUSKESOS SENYUM…..maka merekahlah senyum Bu Siwi, apalagi setelah mendapat kunjungan dalam rangka pembelajaran dari 50 Pendamping Daerah/ TA Kabupateb/Kota pelaksana SLRT. Sekian.